top of page

Asrama Dara, Ketika Perempuan Terbelenggu Budaya

Writer: Farrel Fauzan Arvian
Farrel Fauzan Arvian
Jan 13, 2021
4 min read

Sumber gambar : Wikipedia

Setiap hari, pulang dari kuliah naik trem dan bis kota. Di sana banyak lelaki main mata…

Kehadiran trem pada film lawas ini membuat saya tertarik untuk menonton “Asrama Dara”, sebuah karya cipta Usmar Ismail pada tahun 1958. Saya ingat, saat itu waktu menunjukan pukul 11 malam saat saya menemukan film tersebut pada kanal YouTube. Yah, tipikal mahasiswa kere, apa-apa cari di internet gratisan.

Film ini sendiri dibintangi oleh beberapa pemain yang saya pun asing mendengarnya, seperti Aminah Cendrakasih, Baby Huwae, Chitra Dewi, dan beberapa artis lain yang kalau saya sebut bisa-bisa kalian bosan membacanya. Paling yang saya kenal hanya Suzanna, dan itu pun belum seperti Suzanna yang kita kenal sekarang, karena masih berumur sekitar 15 tahun-an.

Plot nya sederhana sih, layaknya beberapa sinetron atau FTV zaman kini. Ada kisah percintaan dan kisah keluarga yang dibalut dengan sajian musikal serta humor khas tahun lima puluhan. Tetapi, dibalik kesederhanaan alur kisahnya, ada beberapa pesan yang mungkin Usmar Ismail coba katakan, khsusunya untuk perempuan di tahun 1950-an.

Karena tertarik melihat keadaan trem yang saya bahas di awal, tentu yang jadi fokus saya adalah mencari adegan Tari (Aminah Chendrakasih) yang bernyanyi sembari berada di dalam Trem. Ungkapan “banyak lelaki main mata” pada lirik yang ia nyanyikan membuat saya terkejut. Lah wong saya gak nyangka Tari bakalan bicara begitu. Nah, dari sinilah saya memutuskan untuk menonton keseluruhan alur ceritanya.

Dalam film ini terdapat empat bagian besar plot yang mengisahkan setiap konflik penghuni Asrama Dara yang dikepalai oleh Bu Siti (Fifi Young). Bu Siti sendiri dianggap menjadi ibu yang sangat bertanggung jawab atas anak-anak asuhnya.

Sebagian Asrama Dara, pertama yaitu mengisahkan Ani (Nurbani Jusuf) dan Ina (Suzanna) yang merupakan kakak beradik, menjadi penghuni baru karena pertengkaran ayahnya serta ibunya yang orang penting di politik masa itu. Plot ini lebih mengedepankan kisah kekeluargaan di antara Ani, Ina, serta orang tuanya.

Plot kedua berasal dari cinta lika-liku antara Maria (Baby Huwae) seorang pramugari yang dicintai pilotnya yaitu Imansyah (Bambang Hermanto), namun lebih menyukai Broto (Rendra Karno). Broto di lain sisi lebih menyukai teman Maria, yaitu Sita (Nun Zairina) guru tari yang mendapat modal membuka tempat latihan dari Broto dengan bantuan Maria.

Kemudian plot ketiga terjadi karena Rahimah (Chitra Dewi) yang merupakan calon dokter, harus mengorbankan pendidikannya demi menikah di kampung atas permintaan orang tuanya. Ia dibantu oleh Nasrul (Bambang Irawan) dalam menyelesaikan permasalahannya.

Kisah terakhir berasal dari kisah cinta dan perasaan Tari yang bertemu seseorang laki-laki pada adegan di trem, namun laki-laki tersebut berumur hampir sama dengan ayah Tari.

Akhirnya mudah ditebak. Keluarga Ani-Ina kembali rukun karena sebuah konflik, Tari mendapatkan laki-laki yang seumuran dengannya, Rahimah kembali berkuliah dan Nasrul melamarnya — ternyata ia yang dijodohkan oleh orang tua Rahimah, dan Maria jadian dengan Imansyah, sementata Broto dengan Sita.

Hal yang menarik untuk saya coba jelaskan disini adalah pesan yang dibawa oleh Usmar Ismail terkait perempuan-perempuan ini. Bagaikan menampar masyarakat tentang budaya yang membelenggu kebebasan perempuan pada zaman itu.

Pembawaan Bu Siti yang tegas namun terkesan kolot tergambar dalam beberapa adegan yang menyuruh Rahimah untuk segera menikah, kalau tidak mau jadi “perawan tua” istilahnya. Ia juga sangat protektif dengan adanya laki-laki yang masuk ke Asramanya, menandakan ada sebuah ketakutan di benak Bu Siti jika laki-laki tersebut dibiarkan bebas ngapel di Asrama.

Dalam adegan Trem dan Bus Kota juga, Tari mendapat beberapa pelecehan yang ia ungkapkan secara verbal dan non-verbal. Istilah “main mata” terucap olehnya beberapa kali menandakan para laki-laki ini senang ada perempuan cantik di dalam Trem, yang notabene pada adegan itu diisi oleh laki-laki. Ada pula adegan rambut Tari dipegang oleh laki-laki tidak dikenal yang membuat dirinya merasa risih, segera ingin turun dari Trem tersebut.

Ani dan Ina yang fokus plot nya pada keluarga memang tidak menggambarkan belenggu perempuan seperti kisah lain, namun ada satu adegan ayah Ani-Ina benci karena istrinya lebih sukses dan sibuk dibanding dirinya. Seakan ada pemikiran lewat di benak saya, seperti “perempuan tidak boleh lebih sukses dari laki-laki”, dan “perempuan cuma boleh kerja di dapur, urus anak-anak”.

Pengaruh budaya belenggu ini pun tidak terlalu saya rasakan dalam kisah percintaan antara Maria, Sita, Imansyah, dan Broto. Hanya layaknya kisah menye-menye romansa lain dengan plot cinta segitiga.

Plot Rahimah dan Nasrul cukup menarik ketika saya tonton. Walau di akhir ketahuan bahwa Nasrul lah yang akan meminang dirinya, Rahimah dihadapkan beberapa permasalahan yang bahkan saya dalam hati katakan, miris banget. Pertama, ia dijodohkan dengan seseorang di kampung oleh orang tua (seperti Siti Nurbaya era lima puluh) dan harus menghentikan pendidikannya sebagai calon dokter. Sayang banget. Kemudian, demi mencari uang untuk tambahan sewa asramanya, ia harus menjadi guru SMA dan sempat digodain oleh murid-muridnya yang nakal, sampai di satu titik ada adegan ia menangis di depan kelas tidak tahan dengan kelakuan mereka.

Perempuan di Asrama Dara adalah potret beberapa perempuan di tahun yang sama. Mereka memiliki keinginan untuk maju, berpendidikan, namun sayang terkadang suka tersandung tekanan budaya, baik dari orang tua atau masyarakat. Rahimah yang dipaksa menikah dan mengorbankan masa depannya. Ani dan Ina yang memiliki keluarga cukup bermasalah, hingga Tari yang mendapat pelecehan di transportasi publik dan dianggap normal saat itu.

Memang semua itu adalah adegan lakon semata, tapi percaya deh, ada lho versi nyatanya. Toh, film ini dibuat dengan kedekatan budaya saat itu di Jakarta. Jadi seharusnya tidak akan beda jauh dengan realita aslinya.

Dan mirisnya lagi, apa yang terjadi pada Rahimah, Tari, Ani dan Ina masih terjadi sampai sekarang. Ada beberapa kenalan saya yang berasal dari ekonomi kelas menengah ke bawah, di umur 17 tahun sudah dipaksa harus menikah dengan orang berumur 30 tahun-an demi kehidupan yang mapan. Padahal ia mungkin masih memiliki masa depan untuk kuliah dan merasakan berkarya dulu. Pelecehan pun kerap terjadi, di kampus, tempat publik, bahkan di dekat rumah bisa menjadi area bahaya bagi perempuan, hanya karena nafsu laki-laki semata.

Perbedaanya, ya ada sih. Perempuan sekarang, — walau belum semua, sudah mulai berani speak up jika menjadi korban pelecehan. Selain itu di era informasi yang lancar seperti air sungai ini, awareness tentang pentingnya mengenyam pendidikan, tidak menikah 'terlalu' muda, serta informasi mengenai pelecehan sudah banyak berkembang, walau tetap saja kadang masih tersandung budaya yang ada.

Walau bentuknya musikal humor, ternyata film Asrama Dara menyimpan banyak nilai-nilai mengenai perempuan yang kalau kalian perhatikan, relate dengan keadaan di Indonesia. Nah maka itu, dengan adanya film ini dan mungkin sedikit informasi dari saya dan kritikus lain di Mbah Google, kalian-kalian jadi terinspirasi untuk membangkitkan semangat, mematahkan belenggu budaya perempuan yang lama melekat pada masyarakat kita, sehingga bisa lebih aware dan pastinya menjadi masyarakat yang lebih baik kedepannya.

44 Comments


quinn16610
Aug 22

Đọc những trang nhật ký này, tôi có cảm giác như đang lật giở từng mảnh ký ức của một ai đó đã đi qua nhiều thăng trầm trong cuộc đời. Trong lúc lướt qua các trang blog này, tôi thấy vài dòng nhắc đến i9bet trong phần bình luận của một người dùng khác, dường như nó là một cái tên khá phổ biến trong các chủ đề giải trí trực tuyến mà tôi từng thấy đâu đó trên mạng xã hội. Những dòng tâm sự chân thực luôn có sức mạnh chạm đến cảm xúc của độc giả, giúp chúng ta nhìn nhận lại cuộc sống từ góc nhìn của người khác. Mỗi bài viết là một trải nghiệm…

Like

quinn16610
Aug 21

Những dòng nhật ký ghi chép lại hành trình cá nhân luôn mang một sức hút kỳ lạ đối với những người hay suy tư như tôi. Đọc qua những đoạn ghi chép này, tôi chợt nhớ đến một người quen từng nhắc về việc hệ thống hóa lại các suy nghĩ trên xn88aa để giữ cho tâm trí được ngăn nắp trước khi đối mặt với vô vàn biến động hằng ngày. Việc ghi chép không đơn thuần là lưu lại sự kiện, mà nó giống như một quá trình đối thoại với chính bản thân mình ở những thời điểm khác nhau. Tôi vẫn thường tự hỏi liệu mình có đủ kiên nhẫn để theo đuổi một thói quen…

Like

quinn16610
Aug 21

Những dòng chia sẻ trong phần Journals này mang một cảm giác hoài niệm khó tả, gợi cho tôi nhớ về cuốn sổ tay cũ kỹ mà tôi từng viết từ nhiều năm trước. Có lần khi đang lật giở lại những trang viết ấy, tôi tình cờ nhìn thấy người quen đang xem xoilactv để giải trí sau một ngày dài làm việc, âm thanh từ chiếc điện thoại hòa vào không gian yên tĩnh của buổi tối. Sự tương đồng trong cách chúng ta lưu giữ kỷ niệm, dù là bằng chữ viết hay chỉ là những đoạn ký ức trôi qua, đều là cách để khẳng định bản thân đã đi qua những tháng ngày ấy như thế…

Like

quinn16610
Aug 21

Những ghi chép trong các cuốn nhật ký luôn chứa đựng những mảnh ghép chân thực nhất về tư duy và trải nghiệm cá nhân của người viết. Bài đăng này khiến tôi suy ngẫm nhiều hơn về việc lưu giữ những khoảnh khắc đời thường qua ngôn từ. Khi đang loay hoay tìm kiếm cảm hứng viết lách, tôi lại bắt gặp cái tên 79king5v trong một danh sách các từ khóa đang thịnh hành trên một diễn đàn văn chương. Dù chẳng hiểu nó có nghĩa lý gì, nhưng sự xuất hiện của nó khiến tôi bật cười vì sự ngẫu nhiên của các thuật ngữ trên không gian mạng hiện đại. Quay lại với bài viết, cách mà…

Like

quinn16610
Aug 21

Đọc những ghi chép trong các cuốn nhật ký này làm tôi có cảm giác như đang chạm vào những mảnh ghép ký ức của chính mình qua từng câu chữ đầy chiêm nghiệm. Giữa dòng hồi ức, tôi nhớ lại có người từng nhắc đến 79king trong một lần trò chuyện về sự thay đổi của thói quen ghi chép thời đại số, nơi mọi thứ đều được số hóa một cách chóng mặt. Tôi không rõ liệu những nền tảng ấy có thể thay thế được cái cảm giác cầm bút viết lên trang giấy hay không, nhưng đó là một phần không thể tránh khỏi của sự phát triển. Mỗi người đều có cách riêng để lưu giữ…

Like
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Instagram

2021 © Farrel Fauzan Arvian. All right reserved.

bottom of page